Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Aktivitas Manusia Yang Mengancam Keberadaan Penyu

Para ilmuwan menyatakan bahwa penyu sudah ada sejak akhir zaman Jura (145-208 juta tahun yang lalu) atau seusia dengan dinosaurus. Penyu merupakan reptil seperti kura-kura yang mampu menjelajah dunia. Umumnya penyu bermigrasi dengan jarak 3.000 kilometer yang ditempuh selama 60-80 hari.

Para ilmuwan menyatakan bahwa penyu sudah ada sejak akhir zaman Jura (145-208 juta tahun yang lalu) atau seusia dengan dinosaurus. Penyu merupakan reptil seperti kura-kura yang mampu menjelajah dunia. Umumnya penyu bermigrasi dengan jarak 3.000 kilometer yang ditempuh selama 60-80 hari.

Dari ratusan butir telur yang dikeluarkan oleh seekor penyu betina, paling banyak hanya belasan tukik yang berhasil kembali ke laut dan tumbuh dewasa. Hal tersebut disebabkan pemangsa atau predator seperti biawak yang menemukan sarang penyu sebelum menetas dan predator lain yang dijumpai ketika tukik berada di laut.

Tak hanya predator, penyebab lain yang mengancam keberadaan penyu adalah manusia. Eksploitasi sumber daya alam berlebih dan penggunaan alat tangkap ikan merusak telah mengancam keberadaan habitat hewan laut, bahkan beberapa spesies hewan laut terancam mengalami kepunahan.

Aktifitas yang manusia mengancam keberadaan penyu

Perburuan untuk perdagangan telur dan bagian-bagian tubuh lainnya

Jenis penyu yang paling banyak diburu untuk dikomsumsi adalah penyu hijau. Sedangkan yang paling banyak diperdagangkan untuk dijadikan suvenir adalah penyu sisik.

Jenis penyu yang paling banyak diburu untuk dikonsumsi adalah penyu hijau. Sedangkan yang paling banyak diperdagangkan untuk dijadikan suvenir adalah penyu sisik.

Kerusakan habitat tempat peneluran akibat pembangunan di kawasan pesisir

Pembangunan di kawasan pesisir seperti pemukiman penduduk, industri perikanan dan pariwisata adalah penyebab kerusakan habitat tempat peneluran penyu.

Pembangunan di kawasan pesisir seperti pemukiman penduduk, industri perikanan dan pariwisata adalah penyebab kerusakan habitat tempat peneluran penyu.

Ancaman terjebak alat tangkap akibat aktivitas perikanan

Kebutuhan sumber daya ikan yang meningkat setiap tahunnya sejalan dengan peningkatan aktifitas penangkapan ikan skala industri. Akibatnya, terjadi eksploitasi besar-besaran oleh kapal penangkap ikan yang jumlahnya bahkan  2 kali lebih banyak dari pada yang bisa ditolerir populasi sumber daya ikan.

Setiap tahun lebih dari 250 ribu penyu ditangkap tanpa sengaja oleh nelayan di Amerika saja. Penyu yang terjebak dijaring dan tersangkut umpan dikail berujung cedera bahkan sampai kematian terjadi ketika penyu bermigrasi melalui daerah penangkapan ikan.

Setiap tahun lebih dari 250 ribu penyu ditangkap tanpa sengaja oleh nelayan di Amerika saja. Penyu yang terjebak dijaring dan tersangkut umpan dikail berujung cedera bahkan sampai kematian terjadi ketika penyu bermigrasi melalui daerah penangkapan ikan.

Pencemaran lingkungan karena limbah dan sampah plastik

Sekitar 80% plastik di lautan berasal dari segala penjuru daratan yang disapu dari garis pantai atau dibawa dari sungai sisa dari industri perkapalan dan perikanan.

Sekitar 80% plastik di lautan berasal dari segala penjuru daratan yang disapu dari garis pantai atau dibawa dari sungai sisa dari industri perkapalan dan perikanan.

Dan ketika plastik mencapai lautan, sulit untuk menghilangkan dan memperbaiki kerusakan yang terjadi pada ekosistem laut. Tak sedikit penyu yang mati karena memakan potongan plastik dan sisa alat tangkap ikan yang terbuang seperti tali pancing.

Upaya Perlindungan

Berdasarkan data Conservation International(CI) jumlah penyu belimbing turun dari sekitar 115.000 ekor betina dewasa menjadi kurang dari 3.000 ekor sejak tahun 1982.

Penyu belimbing telah mengalami penurunan 97% dalam waktu 22 tahun terakhir. Selain itu, lima spesies penyu juga beresiko punah, meski tidak dalam jangka waktu yang singkat seperti penyu belimbing.

Perlindungan internasional

Dunia internasional  menetapkan penyu sebagai hewan terancam punah. Sebagaimana ketentuan CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna), bahwa semua jenis penyu telah dimasukan dalam appendix I yang artinya perdagangan internasional penyu untuk tujuan komersil juga dilarang.

Status populasi penyu

Status penyu menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN) ditetapkan bahwa;

Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) Status Rentan,

Penyu Hijau (Chelonia mydas) Status Terancam punah,

Penyu Belimbing (Dermochelis coriaceae) Status Rentan,

Penyu Pipih (Natator depressus) Status Rentan,

Penyu Tempayan (Caretta caretta) Status Kurang data,

Penyu sisik (Eretmochelys imbricata) Status Sangat terancam punah, dan

Penyu kempi (Epinephelys kempii) Status Sangat terancam punah.

Perlindungan di Indonesia

Di Indonesia sendiri menjadi salah satu habitat bertelur 6 penyu dari 7 penyu yang ada di dunia. Pemerintah Indonesia mengupayakan pencegahan dari ancaman kepunahan spesies penyu, dengan pembuat aturan seperti, Undang Undang No 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Peraturan Pemerintah (PP) Nomer 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam rangka melakukan penertiban terhadap pemanfaatan penyu dan turunannya juga menerbitkan Surat Edaran No. SE 526 tahun 2015 tentang Pelaksanaan Perlindungan Penyu, Telur, Bagian Tubuh, dan/atau Produk Turunannya.

Penyu berkontribusi pada kesehatan lingkungan ekosistem laut. misalnya, Penyu Sisik (Eretmochelys imbricate) yang memakan berbagai jenis spons untuk menjaga komposisi distribusi spons dari ekosistem terumbu karang. Dimana spons secara agresif bersaing berebut tempat dengan terumbu karang.

Berkurangnya populasi mereka akan menimbulkan efek negatif bagi spesies lain, termasuk manusia. Mungkin sekarang efek itu belum terlihat kata Jeffrey Lovich.

CERITA PESISIR
CERITA PESISIR dwicahyojs

Posting Komentar untuk "Aktivitas Manusia Yang Mengancam Keberadaan Penyu"