Destructive Fishing, Penangkapan Ikan yang Merusak
Sejak ribuan tahun yang
lalu manusia telah memanfaatkan sumber daya ikan untuk kebutuhan pangan
sehari-hari. Seiring berjalannya waktu populasi manusia bertambah dan kebutuhan
pangan-pun ikut bertambah.
Untuk mengatasi hal
tersebut manusia mengembangkan teknologi guna mempermudah dan mempercepat
aktivitas sehari-hari demi memenuhi kebutuhannya termasuk bidang penangkapan
ikan.
Perkembangan teknologi
penangkapan ikan tidak hanya membantu manusia dalam memenuhi kebutuhan pangan.
Eksploitasi berlebih,
tangkapan sampingan dan destructive
fishing adalah ancaman nyata bagi ekosistem laut, bahkan dapat menyebabkan
kepunahan spesies hewan laut.
Secara global diperkirakan
90% populasi ikan ditangkap secara berlebihan, yang menyebabkan penurunan
drastis sejumlah populasi spesies ikan yang memiliki peranan penting secara
ekologis.
Bahkan ketika sejumlah
aturan pengelolaan perikanan berkelanjutan diterapkan baik secara nasional
maupun internasional, penangkapan ikan secara ilegal masih saja marak terjadi.
Diperkirakan, sebanyak 60% hasil tangkapan ikan di laut yang diekspor di seluruh dunia berasal dari praktik penangkapan ikan secara illegal terutama penggunaan alat tangkap merusak atau destructive fishing.
Pukat
Dasar
Pengoperasian kapal pukat
awalnya menghindari terumbu karang dan daerah berbatu di dasar laut karena akan
merusak dan merobek jaring ketika tersangkut di karang.
Tetapi pada 1980-an, perkembangan teknologi mengubah hal tersebut. Penggunaan roller raksasa berdiameter lebih dari 75 cm mampu memindahkan batu-batu besar seberat 25 ton.
Saat ini, sebagian besar wilayah dasar laut hingga kedalaman 2.000 m mampu
dilewati oleh pukat dasar.
![]() |
Pukat Dasar |
Salah satu contoh nyata
adalah, perairan gunung karang di lepas pantai selatan Australia, hampir 90%
tutupan karang musnah dan hanya menyisakan hamparan karang mati akibat
alat tangkap pukat.
Pukat juga dianggap sebagai alat tangkap paling tidak selektif, selain ikan target juga menangkap berbagai jenis spesies lain(non target) sampai spesies yang dilindungi seperti penyu, lumba-lumba dan beberapa jenis hiu yang rentan akan kepunahan.
Penangkapan
ikan dengan sianida
Dalam metode ini, nelayan menyemprotkan natrium sianida ke dalam air untuk membuat ikan pingsan tanpa membunuhnya sehingga mudah ditangkap.
Penangkapan ikan dengan sianida di terumbu karang
dimulai pada 1960-an untuk memasok perdagangan ikan hias internasional.
Tetapi sejak awal
1980-an, ikan karang hidup hasil
tangkapan menggunakan sianida, di pasok ke restoran-restoran di Hong Kong, dan
Singapura, dan Cina semakin meningkat karena menjadi bisnis yang sangat
menguntungkan.
![]() |
Penangkapan ikan dengan sianida |
Sekitar 20.000 ton ikan hidup dimakan setiap tahun di restoran Hong Kong. Dan untuk setiap ikan hidup yang ditangkap menggunakan sianida, membunuh sedikitnya satu meter persegi terumbu karang.
Penangkapan
ikan dengan Bom
Dalam metode ini, dinamit
atau bahan peledak dibuang atau
dilemparkan kedalam laut yang menghasilkan gelombang kejut saat setelah
meledak.
![]() |
Penangkapan ikan dengan Bom |
Gelombang kejut bawah air yang dihasilkan oleh ledakan membuat ikan pingsan dan menyebabkan kantung renang mereka pecah.
Hal ini menyebabkan hilangnya daya apung secara tiba-tiba,
sehingga menyebabkan ikan mengapung ke permukaan, walaupun sebagian besar
tenggelam ke dasar laut.
Ledakan tersebut tanpa
pandang bulu membunuh sejumlah besar ikan dan organisme laut lain yang berada
di sekitar ledakan. Selain membunuh ikan di sekitarnya, gelombang kejut dari
ledakan juga menghancurkan karang yang ada di bawahnya.
Penangkapan ikan dengan menggunakan dinamit berkontribusi besar terhadap kerusakan terumbu karang di seluruh dunia.
Ghost Fishing
Ghost fishing sendiri merupakan alat tangkap diluar kendali manusia tapi masih aktif menangkap ikan yaitu alat tangkap yang hilang atau sengaja dibuang seperti jaring dan bubu ikan.
![]() |
Ghost Fishing |
Peralatan tersebut dapat terus menangkap ikan, lumba-lumba, paus, penyu, dan makhluk lainnya saat melayang di air dan setelah tersangkut di dasar laut. Diperkirakan 1.000 km jaring hantu dilepaskan setiap tahun ke Samudra Pasifik Utara saja.
Meski begitu informasi tentang seberapa besar dampak kerusakan yang diakibatkan oleh ghost fishing dan daya tahan setiap jenis alat tangkap sampai benar-benar musnah belum bisa di ketahui secara pasti dikarenakan minimnya penelitian mengenai hal tersebut.
Posting Komentar untuk "Destructive Fishing, Penangkapan Ikan yang Merusak"