Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Deskripsi, Klasifikasi, Hingga Target Tangkapan Jaring Insang (Gillnet)

Gillnet sering diterjemahkan dengan jaring insang, jaring rahang, jaring, dan lain-lain. Istilah gillnet didasarkan pada pemikiran bahwa ikan-ikan yang tertangkap gillnet terjerat disekitar operculum-nya pada mata jaring.

Gillnet sering diterjemahkan dengan jaring insang, jaring rahang, jaring, dan lain-lain. Istilah gillnet didasarkan pada pemikiran bahwa ikan-ikan yang tertangkap gillnet terjerat disekitar operculum-nya pada mata jaring.

Dalam bahasa Jepang, gillnet disebut dengan istilah sasiami, yang diartikan bahwa tertangkapnya ikan-ikan pada gillnet ialah dengan proses bahwa ikan-ikan tersebut menusukkan diri pada jaring.

Di Indonesia, penamaan gill net beraneka ragam, ada yang menyebutnya berdasarkan jenis ikan yang tertangkap (jaring koro, jaring udang, dan sebagainya), ada pula yang disertai dengan nama tempat (jaring udang Bayeman), dan sebagainya.

Pengertian

Jaring insang adalah suatu dinding jaring berbentuk empat persegi panjang, mempunyai mata jaring yang sama ukurannya pada seluruh badan jaring, dilengkapi dengan pelampung pada bagian atas jaring dan pemberat pada bagian bawah jaring.

Menurut Ayodhyoa (1981), gillnet adalah jaring dengan bentuk empat persegi panjang, mempunyai mata jaring yang sama ukurannya pada seluru jaring. Lebar jaring lebih pendek jika dibandingkan dengan panjangnya, dengan perkataan lain jumlah mesh depth lebih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah mesh size pada arah panjangnya.

Menurut Subani dan Barus (1989), gillnet yaitu alat tangkap berbentuk empat persegi panjang yang dilengkapi dengan pelampung, pemberat, tali ris atas, tali ris bawah (kadang tanpa tali ris bawah: seperti jaring udang barong).

Menurut King (1995) dalam Walus (2001), gillnet biasanya dibuat dari bahan nilon monofilament atau nilon multifilmen. Ikan tertangkap secara terjerat tepat dibelakang mata snagged, terjerat di belakang tutup insang-gilled dan terjerat di depan sirip punggung-wedged.

Gillnet yang dioperasikan pada perairan dangkal di tunjukkan untuk menangkap ikan pelagis, sedangkan pada perairan yang lebih dalam untuk menangkap ikan demersal yang dioperasikan di atas dasar laut.

Nomura dan Yamazaki (1977), mengatakan bahwa umumnya gillnet di operasikan dalam rangkaian yang panjang hingga mencapai 3000-4000 meter. Kadang kala dioperasikan secara terhanyut bersama-sama kapalnya atau ditetapkan kedudukannya dengan bantuan jangkar membentang sepanjang dasar perairan maupun pada kedalaman tertentu.

Konveksi Welligon (New Zeland) pada Foeum Fasifik selatan menganjurkan panjang maksimum driftnet yaitu 2.5 km.

Prinsip penangkapan

Jaring insang dioperasikan dengan tujuan menghadang ruaya gerombolan ikan. Ikan-ikan yang tertangkap pada jaring insang umumnya karena terjerat(gilled) dibagian belakang penutup insang(entangled) pada mata jaring, baik untuk jaring insang yang hanya terdiri dari satu lapis jaring, dua lapis maupun tiga lapis jaring(trammelnet).

Dalam operasi penangkapan, jaring insang biasanya terdiri dari beberapa tinting(piece) jaring yang digabung menjadi satu sehingga merupakan satu unit jaring yang panjang, yang panjangnya tergantung dari banyaknya tinting yang akan dioperasikan.

Alat penangkap ini dapat dioperasikan dengan cara dihanyutkan, dipasang secara menetap pada suatu perairan, dengan cara dilingkar, atau dengan cara menyapu dasar perairan.

Klasifikasi gillnet

Klasifikasi gillnet menurut Ayodhyoa (1981), adalah berdasarkan kedudukan jaring dalam air dibedakan menjadi jaring insang permukaan (surface gillnet), jaring insang dasar (bottom gillnet) atau surrounding gillnet.

Berdasarkan lapisan jaring yang membentuk dinding jaring dibedakan menjadi jaring insang berdinding tunggal dan berdinding tiga (trammel net).

Berdasarkan lapisan kedalam air tempat dioperasikan alat ini dapat dibedakan menjadi jaring insang permukaan (surface gillnet), jaring insang lapisan air tengah (midwater gillnet), jaring insang dasar (bottom gillnet).

Jaring insang permukaan (surface gillnet)

Jaring insang lapisan air tengah (midwater gillnet)

Jaring insang dasar (bottom gillnet)

Klasifikasi jaring insang berdasarkan metode pengoperasian terdiri dari;

1. Jaring insang menetap (set gillnet/fixed gillnet),

2. Jaring insang hanyut (drift gillnet),

3. Jaring insang giring (frightening gillnet/drive gillnet),

4. Jaring insang lingkar (encircling gillnet), dan

5. Jaring insang sapu (rowed gillnet)

Deskripsi Alat Tangkap

Jaring (Webbing)

Menurut Fridman (1986), benang yang digunakan sebaiknya warna bening atau biru laut. Tujuannya adalah supaya ikan sulit mendeteksi keberadaan jaring di dalam perairan.

Ukuran yang paling baik untuk satu mata jaring adalah keliling jaring (mesh primetre) harus lebih besar dari keliling tubuh maksimum (maximum body girth) dari ikan yang dijadikan target tangkapan.

Selektivitas adalah sifat alat tangkap yang menangkap ikan dengan ukuran tertentu dan spesies dari sebaran populasi. Sifat ini terutama tergantung kepada prinsip yang dipakai dalam penangkapan dan bergantung juga pada parameter desain dari alat tangkap seperti ukuran mata jaring, bahan dan ukuran benang, hanging ratio dan kecepatan menarik. Ukuran mata jaring sangat besar pengaruhnya terhadap selektivitas.

Ukuran mata jaring dan nomor benang pada badan jaring biasanya disesuaikan dengan tujuan biota perairan yang akan dijadikan target tangkapan. Empat cara tertangkap ikan dengan gillnet menurut Sudirman dan Mallawa (2004) yaitu secara terjerat tepat pada insang (gilled), terjerat pada sirip punggung (wedged), terjerat pada mulut (snagged) atau terbelit jaring (entangled).

Pelampung dan Pemberat

Pelampung yang dipakai pada jaring insang biasanya terbuat dari berbagai bahan seperti: Styrofoam, polyvinyl chloride, kaca, plastik, karet atau benda lainnya yang mempunyai daya apung dengan bentuk yang beraneka ragam.

Jumlah, berat jenis dan volume pelampung, yang dipakai dalam satu piece akan menentukan besar kecilnya gaya apung (buoyancy). Besar kecilnya daya apung yang terpasang pada satu piece akan sangat berpengaruh terhadap baik buruknya hasil tangkapan.

Sedangkan pemberat yang di pakai pada jaring insang biasanya terbuat dari timah atau benda lainnya yang dapat di jadikan sebagai pemberat dengan daya tenggelam dan bentuk yang beraneka ragam.

Bahan, ukuran, bentuk dan daya tenggelam biasanya berada antara nelayan satu dengan nelayan lainnya meskipun target tangkapan sama. Besar kecilnya daya tenggelam yang dipakai akan berpengaruh terhadap baik buruknya hasil tangkapan.

Tali Temali

Pada jaring insang ada beberapa tali yang digunakan dalam proses pembuatan alat tangkap yaitu: tali pelampung (tali iris atas) dan tali pemberat (tali ris bawah).

Untuk tali pelampung yang merupakan tali yang digunakan untuk memasang pelampung, bahan dari tali pelampung ada yang terbuat dari bahan polyethylene, haizek, vynilon, lolyvinyl chloride, atau bahan lain yang dapat digunakan untuk tali pelampung.

Tali pelampung pada jaring insang dengan fungsi untuk memsang atau menggantungkan badan jaring, panjang tali pemberat (tali ris bawah) biasanya dibuat lebih panjang dari pada panjang tali pelampung (tali ris atas) yang tujuannya agar kedudukan jaring di perairan dapat terentang dengan baik.

Panjang tali pelampung dan tali pemberat dari mulai ujung badan jaring biasanya dilebihkan antara 30-50 cm.

Kapal

Menurut Iskandar (1990), untuk kapal gillnet agar dapat beroperasi dengan lincah maka diperlukan nilai Lpp (L) yang besar, breadth (B) yang sedang dan depth (D) yang kecil karena ketiga nilai ini merupakan nilai dimensi utama kapal.

Hasil-hasil Tangkapan

Pengertian hasil tangkapan adalah jumlah dari spesies ikan maupun binatang air lainnya yang tertangkap saat kegiatan operasi penangkapan. Hasil tangkapan bisa dibedakan menjadi dua, yaitu hasil tangkapan utama dan hasil tangkapan sampingan.

Hasil tangkapan utama adalah spesies yang menjadi target dari operasi penangkapan sedangkan hasil tangkapan sampingan adalah spesies yang merupakan di luar dari target operasi penangkapan.

Hasil tangkapan utama adalah spesies yang menjadi target dari operasi penangkapan sedangkan hasil tangkapan sampingan adalah spesies yang merupakan di luar dari target operasi penangkapan.

Jenis-jenis ikan yang tertangkap oleh jaring insang hanyut antara lain: tongkol, tenggiri, cakalang, cucut, dan layang. Adapun hasil tangkapan yang diperoleh pada gill net permukaan, diantaranya: ikan cakalang, ikan bubara, ikan bawal hitam, ikan souri.

Sementara hasil tangkapan yang diperoleh pada gill net dasar seperti ikan kerapu, ikan sidat, ikan bambangan, ikan baronang, ikan kakatua biru, dan ikan karang.

Sumber:

Fyson, J. 1985. Desigen Of Small Fishing Vessels. Fishing New Book, England.
Fridman, A., L. 1988. Terjemahan Perhitungan Dalam Merancang Alat Penangkapan Ikan. Balai Pengembangan Ikan. Semarang.
Hakim, Riza Rahman. 2010. Gillnet (Jaring Insang). Diunduh dari: http://rizarahman.staff.umm.ac.id/files/2010/01/M_7_Gill-Net_2011.pdf (10 November 2016).
Prado, J., P.Y. Dremiere. 1996. Fisherman’s Workbook. Balai Pengembangan Penangkapan Ikan. Semarang.
Sadhori, N. 1984. Bahan Alat Tangkap Ikan. CV Yasaguna. Jakarta.
Subani, W. and H. R. Barus . 1989. Fishing Gear For Maritine Fish and Shrip in Indonesia. Jurnal of Marine Fisheries Reearch. Jakarta.
Sudirman dan A, Mallawa. 2004. Metode Penangkapan Ikan. Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Jurusan Perikanan. Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan. Universitas Hasanuddin. Makassar.

CERITA PESISIR
CERITA PESISIR dwicahyojs

Posting Komentar untuk "Deskripsi, Klasifikasi, Hingga Target Tangkapan Jaring Insang (Gillnet)"